Jumat, 18 November 2016

[CERPEN] Jalan Cerita yang Ingin Kusampaikan


“Tugas liburan nanti bikin cerita pendek ya, temanya ‘Aku bangga menjadi orang Surabaya’. Kumpulkan pada saat masuk nanti,” kata wali kelasku ketika pengembalian rapot.

Pulang sekolah, aku langsung menuju mobil antar jemput sekolah untuk pulang. Akhirnya, liburan dimulai. Liburan selama satu bulan sepertinya akan menjadi sangat mengasyikkan. Walaupun puasa, tetapi apa sih yang enggak buat teman?

“Kamu mau menulis cerpen yang seperti apa?” tanya salah satu teman antar jemputku. Temanku yang satunya lagi menimpali, “Iya, kan biasanya kamu bikin cerita yang bagus-bagus."


“Apa? Eh, enggak kok, ceritaku biasanya semrawut. Aku masih belum memikirkan jalan ceritanya. Haduh, liburan masih satu bulan lebih, nanti-nanti saja kerjakannya,” kataku ketus.

Sesampai di rumah, aku langsung membuka ponselku. Di sekolah tidak boleh membawa ponsel, untuk meminimalisir kejahatan. Kulihat ada beberapa pesan masuk.

          ‘Rek, ayo buka bersama,’

          ‘Buka bersama di kafe x yuk rek, di situ lagi ada promo,’

          ‘Ruth ayo nonton sekalian buka bersama,’

Astaga. Puasa baru saja berjalan tiga hari tetapi ajakan untuk buka bersama sudah banyak. Sepertinya aku lebih memilih di rumah saja dan bermain ke rumah teman dekatku.

***

          Aku membuka laptop dan melihat-lihat catatan di ponsel, mencoba untuk memikirkan suatu jalan cerita yang kurasa bagus. Biasanya aku membuat cerita dengan alur yang sulit dipahami, bahkan akupun juga sulit memahaminya. Namun kali ini berbeda karena tugas ceritanya memiliki tema.

          Di catatan ponselku, aku melihat ada banyak sekali cerita yang masih belum selesai. Alur ceritanya pun tidak jelas. Tiba-tiba aku melihat lirik lagu yang harus dihafalkan untuk paduan suara peringatan Insiden Perobekan Bendera Belanda di depan Hotel Majapahit yang diselenggarakan oleh Pemkot Surabaya. Di acara itu akan ada rekonstruksi Insiden, dan ada veteran-veteran perang yang masih hidup.

          Aku mulai terpikirkan suatu jalan cerita. Bagaimana jika cerita tentang Insiden Perobekan Bendera? Dengan sudut pandang orang yang ikut dalam peristiwa itu. Kurasa rasa bangga terhadap Kota Surabaya akan terasa ketika membacanya. Aku mulai mengetik, tetapi sebelumnya aku meminta pertimbangan kepada salah satu temanku, Ivo. Dia menyetujuinya. Saat ku mulai mengetik, aku sendiri malah bingung bagaimana menyusun ceritanya. Tidak jadi. Aku memilih mencari jalan cerita lain.

          Di grup sosial media, Ivo mengajak aku dan teman-temanku untuk mengerjakan tugas ini bersama. Mungkin bertukar ide akan membuat tugas lebih mudah untuk dikerjakan. Akhirnya, keesokan harinya kami semua berkumpul di Tunjungan Plaza.

          Berangkat dengan naik ojek online, yang sebenarnya orang tuaku tidak mengizinkan. Tapi aku sangat menginginkannya, agar aku bisa menikmati Kota Surabaya. Tanpa aku sadari, ternyata Surabaya sudah sangat hijau dari beberapa tahun lalu. Taman-taman kota banyak dibangun, jalur hijau yang lebar dan semakin rindang. Lima belas menit perjalanan, aku sudah sampai di Tunjungan Plaza. Aku menunggu di pintu masuk Tunjungan Plaza 1.

          Pemandangan di depanku sebenarnya tidak cukup buruk. Suasana kota lama yang entah dari mana tiba-tiba muncul. Suasana kota metropolitan yang juga ikut bercampur dengan suasana sejarah yang kental. Bangunan-bangunan tua peninggalan jaman penjajahan yang dilindungi oleh pemerintah itu membuatku ikut merasakan apa yang terjadi pada masa lalu. Seperti ada pesan yang ingin disampaikan ketika aku melihatnya.

          Satu jam aku menunggu, teman-temanku akhirnya datang. Bahkan si pembuat acara datang akhir-akhir. Bersama keenam temanku, aku mulai menulis cerita dan membantu tugas mereka.

          Apa-apaan? Teman-temanku malah asyik bermain ponselnya sendiri-sendiri, dan malah melupakan tugas utama. Aku dan Ivo juga sebenarnya tidak mengerjakan tugas dengan baik. Kami hanya membaca saran yang diberikan oleh teman Ivo dan mengubah beberapa bahasanya agar menjadi sedikit panjang dan lebih mudah dipahami.

          Bahkan sampai pulang pun, aku masih belum memikirkan jalan cerita yang bagaimana yang harus aku tulis. Aku masih sangat bingung. Berkali-kali mengganti alur, berkali-kali pula aku gagal.

          Gagal? Uh, tidak masalah. Aku tidak peduli. Bukan seberapa banyak kamu gagal, tapi seberapa besar tingkat kesuksesan dan keberhasilan yang diraih. Gagal itu bukan penentu, namun pelatih terbaik.

          Aku sadar. Tidak perlu memikirkan cerita yang bagaimana atau seperti apa. Menceritakan kehidupan sehari-hari pun sudah cukup untuk dijadikan cerpen yang menarik. Tentunya tidak melenceng dari tema yang sudah ditentukan. Keseharianku dipenuhi dengan rasa bangga Kota Surabaya dan para penduduknya. Rasa yang sebenarnya sudah sangat mewarnai ceritaku. Tinggal bagaimana aku memanfaatkannya.

          Hingga pada akhirnya, aku sudah menyelesaikan tiga buah cerita. Entah itu memenuhi kriteria atau tidak, aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengekspresikan diriku dan ceritaku. Menyampaikan perasaanku dan gayaku. Walaupun cerita yang aku buat selalu tidak jelas, namun aku memiliki pesan juga tentunya. Jalan cerita seperti apa yang ingin kusampaikan kepada pembaca, entah itu sampai atau tidak. Aku tidak tahu, dan aku tidak ingin tahu.

          Tapi yang aku harap, mereka memahaminya.

          Sampai saat ini. Ketiga ceritaku, kuharap sampai kepada mereka.

2 komentar:

Komen aja gapapa.