“Tugas
liburan nanti bikin cerita pendek ya, temanya ‘Aku bangga menjadi orang
Surabaya’. Kumpulkan pada saat masuk nanti,” kata wali kelasku ketika
pengembalian rapot.
Pulang sekolah, aku langsung menuju
mobil antar jemput sekolah untuk pulang. Akhirnya, liburan dimulai. Liburan
selama satu bulan sepertinya akan menjadi sangat mengasyikkan. Walaupun puasa,
tetapi apa sih yang enggak buat teman?
“Kamu mau menulis cerpen yang seperti
apa?” tanya salah satu teman antar jemputku. Temanku yang satunya lagi menimpali, “Iya, kan biasanya kamu bikin cerita
yang bagus-bagus."
“Apa? Eh, enggak kok, ceritaku biasanya semrawut. Aku masih belum memikirkan jalan ceritanya. Haduh, liburan masih satu bulan lebih, nanti-nanti saja kerjakannya,” kataku ketus.
Sesampai di rumah, aku langsung membuka ponselku. Di sekolah tidak boleh membawa ponsel, untuk meminimalisir kejahatan. Kulihat ada beberapa pesan masuk.
‘Rek, ayo buka bersama,’
‘Buka bersama di kafe x yuk rek, di
situ lagi ada promo,’
‘Ruth ayo nonton sekalian buka
bersama,’
Astaga. Puasa baru saja berjalan tiga hari tetapi ajakan untuk buka bersama sudah banyak. Sepertinya aku lebih memilih di rumah saja dan bermain ke rumah teman dekatku.
***
Aku membuka laptop dan melihat-lihat
catatan di ponsel, mencoba untuk memikirkan suatu jalan cerita yang kurasa
bagus. Biasanya aku membuat cerita dengan alur yang sulit dipahami, bahkan
akupun juga sulit memahaminya. Namun kali ini berbeda karena tugas ceritanya
memiliki tema.
Di catatan ponselku, aku melihat ada
banyak sekali cerita yang masih belum selesai. Alur ceritanya pun tidak jelas.
Tiba-tiba aku melihat lirik lagu yang harus dihafalkan untuk paduan suara
peringatan Insiden Perobekan Bendera Belanda di depan Hotel Majapahit yang
diselenggarakan oleh Pemkot Surabaya. Di acara itu akan ada rekonstruksi
Insiden, dan ada veteran-veteran perang yang masih hidup.
Aku mulai terpikirkan suatu jalan
cerita. Bagaimana jika cerita tentang Insiden Perobekan Bendera? Dengan sudut
pandang orang yang ikut dalam peristiwa itu. Kurasa rasa bangga terhadap Kota
Surabaya akan terasa ketika membacanya. Aku mulai mengetik, tetapi sebelumnya
aku meminta pertimbangan kepada salah satu temanku, Ivo. Dia menyetujuinya. Saat
ku mulai mengetik, aku sendiri malah bingung bagaimana menyusun ceritanya.
Tidak jadi. Aku memilih mencari jalan cerita lain.
Di grup sosial media, Ivo mengajak aku
dan teman-temanku untuk mengerjakan tugas ini bersama. Mungkin bertukar ide
akan membuat tugas lebih mudah untuk dikerjakan. Akhirnya, keesokan harinya
kami semua berkumpul di Tunjungan Plaza.
Berangkat dengan naik ojek online,
yang sebenarnya orang tuaku tidak mengizinkan. Tapi aku sangat menginginkannya,
agar aku bisa menikmati Kota Surabaya. Tanpa aku sadari, ternyata Surabaya
sudah sangat hijau dari beberapa tahun lalu. Taman-taman kota banyak dibangun,
jalur hijau yang lebar dan semakin rindang. Lima belas menit perjalanan, aku
sudah sampai di Tunjungan Plaza. Aku menunggu di pintu masuk Tunjungan Plaza 1.
Pemandangan di depanku sebenarnya
tidak cukup buruk. Suasana kota lama yang entah dari mana tiba-tiba muncul.
Suasana kota metropolitan yang juga ikut bercampur dengan suasana sejarah yang
kental. Bangunan-bangunan tua peninggalan jaman penjajahan yang dilindungi oleh
pemerintah itu membuatku ikut merasakan apa yang terjadi pada masa lalu.
Seperti ada pesan yang ingin disampaikan ketika aku melihatnya.
Satu jam aku menunggu, teman-temanku
akhirnya datang. Bahkan si pembuat acara datang akhir-akhir. Bersama keenam
temanku, aku mulai menulis cerita dan membantu tugas mereka.
Apa-apaan? Teman-temanku malah asyik
bermain ponselnya sendiri-sendiri, dan malah melupakan tugas utama. Aku dan Ivo
juga sebenarnya tidak mengerjakan tugas dengan baik. Kami hanya membaca saran
yang diberikan oleh teman Ivo dan mengubah beberapa bahasanya agar menjadi
sedikit panjang dan lebih mudah dipahami.
Bahkan sampai pulang pun, aku masih
belum memikirkan jalan cerita yang bagaimana yang harus aku tulis. Aku masih
sangat bingung. Berkali-kali mengganti alur, berkali-kali pula aku gagal.
Gagal? Uh, tidak masalah. Aku tidak
peduli. Bukan seberapa banyak kamu gagal, tapi seberapa besar tingkat
kesuksesan dan keberhasilan yang diraih. Gagal itu bukan penentu, namun pelatih
terbaik.
Aku sadar. Tidak perlu memikirkan
cerita yang bagaimana atau seperti apa. Menceritakan kehidupan sehari-hari pun
sudah cukup untuk dijadikan cerpen yang menarik. Tentunya tidak melenceng dari
tema yang sudah ditentukan. Keseharianku dipenuhi dengan rasa bangga Kota
Surabaya dan para penduduknya. Rasa yang sebenarnya sudah sangat mewarnai
ceritaku. Tinggal bagaimana aku memanfaatkannya.
Hingga pada akhirnya, aku sudah
menyelesaikan tiga buah cerita. Entah itu memenuhi kriteria atau tidak, aku
tidak peduli. Aku hanya ingin mengekspresikan diriku dan ceritaku. Menyampaikan
perasaanku dan gayaku. Walaupun cerita yang aku buat selalu tidak jelas, namun
aku memiliki pesan juga tentunya. Jalan cerita seperti apa yang ingin
kusampaikan kepada pembaca, entah itu sampai atau tidak. Aku tidak tahu, dan
aku tidak ingin tahu.
Tapi yang aku harap, mereka
memahaminya.
Sampai saat ini. Ketiga ceritaku,
kuharap sampai kepada mereka.
wow keren
BalasHapusciee first komen XD cium dulu sini~ :*
Hapus